Minggu, 28 Mei 2017

Sejarah uber


OMEABOUSejarah Uber di Indonesia


Selasa (22/3) menjadi hari bagi para ribuan supir taksi di Jakarta mogok dan menolak layanan taksi berbasis aplikasi online ada di Jakarta. Alasannya, para supir taksi ini mengaku sepi penumpang karena tarif taksi online ini sangatlah murah.
Salah satu dari layanan taksi tersebut adalah Uber. Uber sendiri baru beroperasi hampir 2 tahun di Indonesia. Bagaimana sejarah Uber ini bisa masuk ke Indonesia? Ini dia.
Uber masuk ke Indonesia pada 13 Agustus 2014. Awalnya, Uber baru melayani pelanggannya di kawasan CBD seperti Kuningan atau Sudirman, Jakarta. Skema Uber di Indonesia pun sama seperti diluar negeri, Uber tidak memiliki mobil sendiri. Mobil-mobil tersebut berasal dari rekanan Uber yang disewa.
Cara pemesanannya pun layaknya memesan taksi pada umumnya. Pengguna diminta registrasi yang berisikan data pribadi dan nomor kartu kredit untuk pembayaran. Untuk memesannya pun cukup mengaktifkan fitur GPS, dan nama supir beserta nomor plat mobil pun dapat terlihat.
Mobil-mobil yang ada pun tergolong mobil mewah, sebut saja Toyota Alphard, Camry, hingga Mercedes Benz S-Class, dan semuanya plat hitam dan tanpa ada tulisan “taksi” satu pun pada badan mobil.
Baru beberapa hari masuk di Jakarta, Dishub DKI Jakarta pun berang dengan masuknya Uber tanpa izin. Menurut Dishub DKI, taksi Uber tergolong taksi gelap. Uber dinilai melanggar aturan sebab untuk menjadi angkutan umum, mobil-mobil Uber harus plat kuning dan telah menjalani uji kir.
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama pun meminta Uber untuk membayar pajak dan mengurus izin sesuai peraturan yang ada.
Puncaknya kala itu adalah penjebakan mobil-mobil taksi Uber oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Organda DKI Jakarta pada Juni 2015. Mobil-mobil tersebut ditahan di Reskrimsus Polda Metro Jaya.
Lalu apa tanggapan Uber?
“Rekanan kami semuanya adalah perusahaan transportasi yang sudah tedaftar dan berlisensi. Kami juga menaati semua peraturan yang ada di Indonesia,” kata Mike Brown, Manajer Uber Kawasan Asia

Gubernur DKI Jakarta, Basuki juga meminta Uber untuk segera membentuk perseroan terbatas atau PT. Menurut pria yang akrab disapa Ahok ini, hanya inilah satu-satunya jalan jika Uber ingin tetap beroperasi di Jakarta.
“Itu namanya mencuri pajak. Solusinya sekarang mereka tinggal bikin PT saja. Apa susahnya kamu bikin PT,” kata Ahok.
Dibulan Agustus 2015, 10 mobil taksi Uber kembali ditahan oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta serta Organda DKI Jakarta.
Karena kontroversinya Uber di Jakarta ternyata menuai protes dari berbagai pihak ketika Uber akan berekspansi ke Bandung dan Bali. Walikota Bandung Ridwan Kamil pun telah melarang Uber beroperasi di Bandung.
Turunnya pendapatan para supir taksi dan munculnya rasa ketidak adilan antara perusahaan taksi dengan Uber, membuat para supir taksi melakukan aksi unjuk rasa. Puncaknya, Selasa (22/3) lalu, para supir taksi berdemo hingga terjadi insiden-insiden seperti pengrusakan mobil taksi, pemukulan, hingga aksi lempar batu bak tawuran antar pelajar.
Sumber oleh: Kompas.com

IkMei 2016April 2016ATEGOFeatureFilmHistoryTanpa kategoriVersusKisah Pak Surito-Penjual BuburKisah Pak Surito, Penjual Bubur Kacang HijauSuka-Duka Kehidupan Pak Surito, Seorang Pedagang Bubur Kacang HijauMemetik Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kisah Pak SuritoKerja Keras dari Penjual Bubur Keliling

Sejarah berdirinya Gojek

Sejarah berdirinya Gojek

Go-jek atau lebih dikenal dengan nama Gojek rasanya saat ini sudah menjadi pemandangan yang umum di jalanan ibukota.  Ya, jaket dan helm hijau terang dengan tulisan besar-besar Go-Jek membuat layanan ini mudah dikenali.

Go-Jek memang fenomenal sampai-sampai ada seorang teman dunia maya yang update statusnya selalu tentang Go-Jek.  Apakah yang bersangkutan sedang menjalankan viral marketing?  Mungkin saja :)

Sejarah Go-Jek

GO-Jek lahir dari ide sang CEO dan Managing Director Nadiem Makarim yang mengaku seorang pengguna ojek.  Ojek yang merupakan kendaran motor roda dua ini memang transportasi yang sangat efektif untuk mobilitas di kemacetan kota.

nadiem makarim, pencetus go-jek (sumber foto : pelatihindonesia.org)nadiem makarim, pencetus go-jek (sumber foto : pelatihindonesia.org)

Dengan pengalamannya saat naik ojek di jalanan yang macet inilah ia kemudian menciptakan Go-Jek, sebuah layanan antar jemput dengan ojek modern berbasis pesanan.  PT Go-Jek Indonesia yang sudah melewati perjalanannya sejak tahun 2011 kini sudah memiliki 1.000 armada ojek yang tersebar di seluruh kawasan Jabodetabek.

“Pelanggan terbanyak berada di kawasan Jakarta Selatan dan Pusat.  Kami sering kewalahan memenuhi permintaan dengan armada yang ada saat ini,” ujarnya seperti dikutip dari merdeka.com (sumber)

Dengan perkembangannya yang pesat ini, kabarnya Go-Jek telah menuai prestasi sebagai Juara 1 dalam kompetisi bisnis Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) di Bali.  Selain itu, Go-Jek telah memperoleh berbagai penghargaan dari berbagai komunitas bisnis maupun sosial.

Di situs resminya disebutkan bahwa layanan Go-Jek adalah sbb :

    Jasa kurir (90 minute delivery anywhere in the city),

    Jasa transportasi (transparent pricing, free shower cap and masker),

    Jasa delivery makanan (delivering your favorite food under 60 minutes in Jabodetabek),

    Jasa belanja dengan nominal di bawah 1 juta rupiah (shop for food, ticket, medicine, anything under Rp 1.000.000. We’ll pay for it first).

Dari beberapa testimoni pengguna Go-Jek bisa ditarik satu kesimpulan yang sama bahwa mereka sangat puas dengan alasan yang hampir sama pula : tarif yang jelas dan transparan selain tentu saja sistemnya yang  mengakomodir gaya hidup modern saat ini yaitu penggunaan teknologi.  Calon pengguna tinggal menginstal aplikasi Go-Jek di smartphone-nya untuk kemudian melakukan pemesanan sekaligus memantau status pemesanannya.

GO-JEK merupakan sebuah perusahaan transportasi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2010 di Jakarta oleh Nadiem Makarim.[1][2] Layanan GO-JEK tersedia di wilayah Jabodetabek, Bali, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Yogyakarta, dan Balikpapan. Hingga bulan Januari 2016, aplikasi GO-JEK sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali di Google Play pada sistem operasi Android.[3]. Saat ini juga ada untuk iOS, di App Store.

Kontroversi

Menjamurnya penggunaan jas GO-JEK membuat adanya kecemburuan di antara tukang ojek pangkalan. Pada tanggal 9 Juni 2015 seseorang dalam akun Path menuliskan insiden bahwa pengemudi GO-JEK yang dipesannya diusir oleh tukang ojek pangkalan di Kuningan yang tidak terima rezekinya dirampas.[4] Dua kali dia memanggil sopir GO-JEK, dua kali pula pengemudi GO-JEK lari karena takut dipukuli tukang ojek pangkalan. Akhirnya dia naik ojek pangkalan dengan tarif jauh lebih mahal dibanding tarif sopir GO-JEK. Sekadar diketahui, tarif ojek GO-JEK lebih pasti karena ditentukan lewat aplikasi sehingga tidak perlu tawar-menawar.

https://id.wikipedia.org/wiki/GO-JEK


Senjata tradisional suku batak

Senjata tradisional suku batak

1. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Gaja Dompak

Piso Gaja Dompak adalah senjata tradisional Sumatera Utara yang berbentuk pisau yang berfungsi untuk memotong dan menusuk. Senjata Tradisional Sumatera Utara tersebut dikenal Piso Gaja Dompak karena pada gagang pisau tersebut terdapat ukiran berbentuk gajah.

Piso Gaja Dompak dipercaya merupakan pusaka kerjaan Batak dimasa raja Sisingamangaraja I. Sebagai pusaka kerjaan, senjata tradisional Sumatera Utara ini tidak diperuntukan untuk membunuh, sebagai senjata pusaka Piso Gaja Dompak ini dipercaya memiliki kekuatan supranatural yang akan memberikan kekuatan spiritual kepada pemegangnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh6lxcvIEsqfzHNJlGcFd5ezarkoCxxJ5VmdNwWO_PWpNzjiM2-oGVPMJfKtXXIbYco-Zas8UqlTXlH9nvb5skaJ1GKmrQJOEc4l4VoNdBXEO6F_iNt8xRwte6BlKX6TqsWOT-jq5FvPac/s1600/arts-111-44594.jpg

2. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Tunggal Panaluan

Tongkat Tunggal Panaluan ini adalah tongkat sakti yang hanya dimiliki oleh raja batak. Dalam perkembanganya tongkat ini dipegang oleh Ketua adat dan dipergunakan pada saat adanya acara besar, seperti mambukka Huta, acara Horja bius dll. Saat ini tongkat pusaka raja batak ini disimpan di museum Gereja Katolik Kabupaten Samosir.
Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki kekuatan gaib untuk: meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dan lainnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_7p6oB_7RRosgmUvDCe8R0m_ki_MOb8PRz6Haxi7jK2ZYMHJ2PRhM5pRWopkqYGL5fFKPoaTuJy3a0dXVzZUMN3k825XYQHs1XMFnUB6gHTmqriscaxwqIYBw838T9wpX8TmInlzioU9I/s1600/Tunggal+Panaluan.jpg
3. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Hujur Siringis

Hujur siringis adalah senjata tradisional Sumatera Utara berupa tombak yang dipergunakan oleh masyarakat Batak dalam berperang. Hujur Siringis berbentuk tombak kayu yang ujugnya terbuat dari logam yang runcing.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIj5CAC8nXievE7u1YGiSnMKMB0vdN3Qh2iL7jwLkTuv4zgN86GYedzHzDCXh00SoKY1kY0nKFgePG282g2OznK6trGG_rmEBzG1oAsxMf2Luo99BMc-CHvWTIcx2pKu311Uymv-SxoZip/s1600/hujur.JPG

4. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Silima Sarung
Disebut Piso Silima Sarung karena  didalam 1 sarung  5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnAcxkfvxA0AU1_bDdVoDCPpPgmHkYBVPh3aOPKr2Sq9T8gqbilyVOEGJ27imSA9eZCAAcT8y1IdR50YVAkVcDL3AI0JI4OZX9iW2yEaR5goPUJNHnOWYi9j0sqscvKFQoJxH6WCeJp3pr/s1600/piso+si+lima+sarung.JPG

5. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang memiliki 1 sarung didalamnya terdapat 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan dan kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOk6pg2dcmI39PKyOcgaO1juvTpe65JE03mVmHh7XGk433fqA3VmCpj79vvOzvjCRkJAXwJzYJcTJ7QUT03xYEC3nyfiwKA60Iq_AyajrriBBg9V9cagBrsq0Sv4cS1pC0Moi_noxOWyrU/s1600/piso+si+tolu+sarung.JPG
6. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Karo
 Pisau Karo merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang dibuat sekitar Abad 19 dengan dimensi panjang sekitar 31-55 cm. Pegangan pisau ini terbuat dari kayu, rotan dan gading. Sarungnya ditutupi perak dan suasa.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip-dkYGVegmcdeQBrTNHTEdvhI0Yc5tJMm-Gpc2eYvnyN13wcjZByww6A8_b-_tPR8Dx5qCytK5JWLbkW6jPYBetmVuQUQy7DYIj5wTj_3zUIu6Ydm_uqxIuaY5ZOX1M_HE_GcGNPqtLFb/s1600/Pisau+Karo-2.JPG
 7. Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Gading
Piso Gading berasal dari Toba dibuat sekitar abad ke-19, yang bahannya terbuat dari kayu, rotan, gading dan memiliki panjang keseluruhan sekitar 66 cm sedangkan panjang pisaunya sekitar 48 cm.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAPMqyOViChgLKuko81gVFl-pPBmkiioMTqANoMZEy3QcBL63ZeecFAnn5X-r4eN7XWognmGYwOlpzjarDj3fMH25yb2M2gcOmtpz-QznNjZszgFvxYN_uSk8yPah2M2Z3h6URMu9YqW01/s1600/Piso+Gading.jpg
 8.Senjata Tradisional Sumatera Utara - Piso Sanalenggam
Piso Sanaleggam merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang memiliki Gagang pisau menggambarkan sosok pria yang matanya dihiasi dengan kepala tertunduk. Menggunakan motif yang melilit atau melingkar dileher. Dibawahnya cincin kuningan dibuat dari kawat yang digulung.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwxVXI4pWhctcsfFMImRsKdoxXL1bxEqkmENDtwReIV_sxuVF3Ru4hArYCEFbPEUZ5UXhLmC9Lqun-S8Ti7w9fk2CRzKXPF4U8BJp4VpwWjCyk4x9npm4-7iGMC7xZXMo0PuWeQ8nWnSUI/s1600/piso+sannalenggam.jpg


9. Senjata Tradisional Sumatera Utara -Piso Toba
Piso toba merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang terbuat dari kayu, besi, kuningan. Dibuat sekitar abad - 19.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiaA9_ZH1lizBjDF85V0GZEjdORqwK9wkrRpHejtFMLU377lv-su-Hre5yhDCsZ13drCj_oUuuVrxGelQrGZXGf4lB0JSJ760R3500DYCfgjeDWgkqAMp_E5yDyBCKqj33aThcHb0k8Hbh/s1600/sobatbudaya_pisotoba.jpg


Sumber artikel dan gambar :
http://de.wikipedia.org/wiki/Piso_Gading
budaya-indonesia.org
https://pungsin.wordpress.com
http://www.metmuseum.org


Tarian Suku Batak

Tarian suku batak

Tari Tortor: Seni Tari Kebanggaan Suku Batak

Suku Batak, dikenal sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia yang tinggi akan nilai kearifan lokal. Suku Batak memiliki ragam seni dan kebudayaan yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu kesenian dari Suku Batak yang sangat sering dijumpai yaitu tari tortor, seni tari khas bangsa Batak.
Tari tortor merupakan sebuah tarian dengan iringan musik gondang yang biasa dilakukan oleh masyarakat Batak terutama di wilayah Toba, Tapanuli, dan Humbang Hasundutan. Tarian ini sangat terkenal dan menarik banyak perhatian warga lokal bahkan mancanegara, mengingat tidak sedikit masyarakat di luar Batak termasuk warga asing yang mempelajari tari tortor.
Dahulu, tari tortor hanya dilakukan dalam upacara atau ritual adat suku Batak. Tari tortor disajikan dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan bentuk komunikasi, sehingga tampak sebuah ungkapan kehormatan kepada semua partisipan seperti sang tuan rumah atau penyelenggara (hasuhutan), roh para leluhur, penonton, dan Tuhan.
Sebelum acara dimulai, sang hasuhutan melakukan ritual tua ni gondang, yaitu berbicara kepada penabuh gondang untuk menentukan jenis lagu yang dimainkan. Jenis lagu akan disesuaikan dengan tujuan upacara, antara lain yaitu permohonan kepada dewa dan roh leluhur untuk keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan rezeki. Seiring dengan tujuan yang baik, tari tortor dapat menjadi sumber berkah layaknya doa.
Kegiatan menari tortor disebut dengan manortor dalam bahasa Batak. Ketika manortor, para penari mengenakan pakaian adat Batak yaitu kain ulos. Tari tortor memiliki 3 ragam jenis, yaitu tortor pangurason untuk terhindar dari bencana, tortor sipitu cawan untuk penobatan sang raja, dan tortor tunggal panaluan untuk meminta petunjuk dari suatu bencana.
Tari tortor memang terkesan mistis dan penuh makna dalam setiap gerakan, tapi Anda tidak perlu merasa takut karena tarian ini tak lain bertujuan untuk hal baik. Saat ini, tari tortor tidak hanya dilakukan pada upacara adat saja, melainkan dapat ditemui di berbagai acara sebagai hiburan yang memperkenalkan kesenian Batak. Seiring berjalannya waktu, tari tortor sekarang telah dikemas lebih segar agar menciptakan kesan yang lebih menarik dan menghibur.

sumber :
http://www.tobadetour.com/tari-tortor-seni-tari-kebanggaan-suku-batak/

Sejarah Suku Batak

sejarah suku batak

Sejarah, Asal Usul dan Peradaban Suku Batak. Suku Batak merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Agama yang dianut suku ini adalah agama Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Islam Sunni. Adapula yang menganut kepercayaan tradisional seperti tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (Sipelebegu atau Parbegu) walaupun penganutnya sudah berkurang.



Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklasifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Pakpak dan Angkola sebagai etnis Batak.

Suku batak memiliki beberapa sub-sub suku lain yang dikategorikan sebagai:

1. Batak Toba
2. Batak Karo
3. Batak Pakpak
4. Batak Simalungun
5. Batak Angkola
6. Batak Mandailing.

Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[3]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.

Sejarah

Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia dimana bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia berasal dari Taiwan yang telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu pada zaman batu muda (Neolitikum).
Belum diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali berada di Tapanuli dan Sumatera Timur. Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara pada zaman logam.

Identitas Batak

Ada tiga pendapat yang mengungkapkan mengenai identitas suku batak yaitu;

1. R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar.

2. Munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing.

3. Siti Omas Manurung, istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut.

Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi tentang asal usul suku batak menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.
Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.

Bahasa

Bahasa yang digunakan oleh orang Batak adalah bahasa Batak dan sebagian juga ada yang menggunakan bahasa Melayu. Setiap puak memiliki logat yang berbeda-beda. Orang Karo menggunakan Logat Karo, sementara logat Pakpak dipakai oleh Batak Pakpak, logat Simalungun dipakai oleh Batak Simalungun, dan logat Toba dipakai oleh orang Batak Toba, Angkola dan Mandailing.

Kesenian

Tari Tor-tor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak. Tarian ini bersifat magis. Ada lagi Tari serampang dua belas yang hanya bersifat hiburan. Sementara alat musik tradisionalnya adalah Gong dan Saga-saga. Adapun warisan kebudayaan berbentuk kain adalah kain ulos. Kain hasil kerajinan tenun suku batak ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor.

Penyebaran agama

Masuknya Islam


Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatkan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak.

Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Masuknya Kristen

Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.
Selanjutnya Misi Katolik di Tanah Batak terhitung sejak Pastor Misionaris pertama yakni Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap masuk ke jantung Tanah Batak, yakni Balige tanggal 5 Desember 1934.

Masyarakat Toba dan sebagian Karo menyerap agama Kristen dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya.

Kepercayaan

Sebelum suku Batak Toba mengenal agama, mereka menganut sistem kepercayaan religi tentang Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu:

Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.

Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Salam Khas Batak

Salam Horas merupakan salam Suku Batak yang terkenal, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya

1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

Kekerabatan

Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.

Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Dalam persoalan perkawinan, dalam tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan. Maka dari itu, jika ada yang menikah harus mencari pasangan hidup dari marga lain. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak, maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja bila agama yang dianutnya adalah Kristen.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut kelima puak Batak

1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru

2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru

3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei

4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru

5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek Marberru

Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak.

Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama.

Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Dari silsilah diatas, bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Ritual kanibalisme

Dibawah ini adalah beberapa dokumentasi mengenai praktik ritual kanibalisme pada kalangan suku Batak terdahulu.

1. Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai "pemakan manusia". Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

2. Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka ".

3. Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan. Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".

4. Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya. Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.

5. Oscar von Kessel mengunjungi Silindung pada tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.

6. Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar ".

Ritual kanibalisme ini mulai hilang ketika pada tahun 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka. Rumor kanibalisme ini bertahan hingga awal abad ke-20, dan telah jarang dilakukan sejak tahun 1816 karena pengaruh agama pendatang.

Tarombo

Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga.

Itulah Rangkuman Sejarah, asal usul dan kebudayaan suku Batak. Untuk lebih jelasnya anda dapat mengunjungi referensi tulisanya ini yang tertera dibawah.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak diakses tanggal 19 januari 2015
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/952/suku-batak-sumatera-utara diakses tanggal 19 januari 2015

Selasa, 28 Maret 2017

MANUSIA DAN KEINDAHAN sofskill

MANUSIA DAN KEINDAHAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Setiap manusia dilahirkan dan dibekali dengan banyak sekali keindahan. Keindahannya baik dari dalam, dari luar, maupun yang ada disekitarnya. Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keidahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan atau lokal.

1.2       Rumusan Masalah
A.        Apa pengertian dari keindahan?
B.        Apa saja perbedaan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak?
C.        Apa saja nilai etetik suatu keindahan?
D.        Apa saja perbedaan nilai ekstrinsik dengan nilai instrinsik?
E.         Bagaimana teori-teori dalam renunagn?
F.         Bagaimana teoi-teori dalam keserasian?

1.3       Tujuan Masalah
Tujuan dari karya ilmiah ini adalah bagaimana mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang keindahan, renunagna, keserasian dan kaitannya dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu mahasiswa dapat mengetahui perbedaan nilai ekstrinsik dengan nilai instrinsik, mengetahui tentang nilai etetik, memahami teori-teori dalam renungan serta mamhami teori-teori dalam keserasian.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Keindahan
Kata keindahan berasal dari suku kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tanaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengankebenaran.
The Liang Gie menjelaskan bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut bendabenda yang dapat -diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
A.        Nilai Etetik
Dalam rangka terori umum tentang  “The Lianh Gie” menjelaskan bahwa pengertian yang dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya niali moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estentik. Dalam bidang filsafat, istilah sering kalin dipakai sebagai kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (wort) atau  kebaikan (goodness) Dalam “dictionary of sociology and relate ecience” diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut.. kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan manusia, sifat suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok.
B.        Nilai ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (”instrumental! Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu contohnya puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik.
C.        Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik.
D.        Kontemplasi dan Ekstansi
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Manusia menciptakan berbagai macam peralatan untuk memecahkan rahasia gejala alami tersebut. Semuanya ini dilakukan dan hanya bisa terjadi berdasarkan resep atau pemikiran pendahuluan yang dihasilkan oleh kontemplasi.

2.2       Renungan
Renungan berasal dari kata renung. Merenung artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu secara mendalam. Renunagn adalah hasil merenung . Orang yang merenungkan setiap kegiatannya/segenap pengetahuannya yang dia miliki dapat disebut berfilsafat. Tetapi tidak semua orang mampu berpikir kekilsafan. Dimana kekilsafan mendasarkan diri pada penalaran.
Renungan atau  pemikiran berhubungan dengan keindahan didasarkan atas 3 macam teri yaitu:
A.    Teori metafisika, plato mendalilkan adanya dunia ide para taraf yang tertinggi, sebagai realita illahi itu.
B.     Teori pengungkapan, dam teori ini dikatakan oleh Benedelto Croce. Bahwa seni adalah pengungkapan kesan-kesan yang dimiliki seserang
C.     Teori psikolgis, dinyatakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan bawah sadar dari serang seniman.
2.3       Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan,Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran, dan seimbang.
Perpaduan misalnya : Lagu atau nyanyian-nyanyian merupakan unsur pertentangan antara suara tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-halus yang terpadu begitu rupa sehingga telinga kita dibuat asyik mendengarkan dan hati kita pun merasa puas.
Teori estetika keindahan adalah Jean M. Filo dalam bukunya “Current Concepts of Art” dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu subjektif adanya. Yakni karena manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya sendiri. Barangkali pernah juga kita dengar pepatah “Des Gustibus Non Est Disputandum” selera keindahan tak bisa diperdebatkan.
2.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan objektif adanya. Yakni karena keindahan itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek, artinya seekor kupu-kupu memang lebih indah dari pada seekor lalat hijau.
3.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan yang objektif. Artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi.

BAB III
PENUTUP

Setiap manusia dilahirkan dan dibekali dengan banyak sekali keindahan. Keindahannya baik dari dalam, dari luar, maupun yang ada disekitarnya. Kata keindahan berasal dari suku kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah. Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
Selain arti dari kata keindahan, keindahan dibagi lagi menjadi nilai etetik, dan perbedaan nilai ekstensik dengan nilai instinsik, kontemplasi dan ekstansi. Nilai etetik Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan. Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (”instrumental! Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu contohnya puisi. Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Renungan atau  pemikiran berhubungan dengan keindahan didasarkan atas 3 macam teri yaitu:
1.      Teori metafisika, plato mendalilkan adanya dunia ide para taraf yang tertinggi, sebagai realita illahi itu.
2.      Teori pengungkapan, dam teori ini dikatakan oleh Benedelto Croce. Bahwa seni adalah pengungkapan kesan-kesan yang dimiliki seserang
3.      Teori psikolgis, dinyatakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan bawah sadar dari serang seniman.
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran, dan seimbang. Keserasian dibagi juga dalam teori-teorinya yaitu:
1.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu subjektif adanya.
Yakni karena manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya sendiri. Barangkali pernah juga kita dengar pepatah “Des Gustibus Non Est Disputandum” selera keindahan tak bisa diperdebatkan.
2.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan objektif adanya.
Yakni karena keindahan itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek, artinya seekor kupu-kupu memang lebih indah dari pada seekor lalat hijau.
3.      Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan yang objektif. Artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi.

DAFTAR PUSTAKA